Workshop Harmonisasi Kurikulum Prodi Sarjana Terapan Jaminan Mutu Sediaan Farmasi dan Pangan Olahan, Kerja Sama BPOM dengan Universitas Hasanuddin

21-07-2026 workshop Dilihat 35 kali

Melalui Harmonisasi Kurikulum, BPOM dan UNHAS Siapkan SDM Pengawasan untuk Menjawab Tantangan Masa Depan 

Makassar, 20-21 Juli 2026 – Masyarakat berhak memperoleh obat dan makanan yang aman, bermutu, dan bermanfaat. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sistem pengawasan yang didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, adaptif, serta mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika produk yang terus berkembang. Sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas SDM pengawasan di masa depan, BPOM melalui PPSDM POM bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin (UNHAS) dalam penyelenggaraan Program Studi Sarjana Terapan (D4) Jaminan Mutu Sediaan Farmasi dan Pangan Olahan yang direncanakan mulai menerima mahasiswa angkatan pertama pada Tahun Ajaran 2026/2027 dengan target sebanyak 40 mahasiswa.

Agar lulusan program studi tersebut memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus mampu mendukung sistem pengawasan obat dan makanan nasional, BPOM dan UNHAS menyelenggarakan Workshop Harmonisasi Kurikulum. Kegiatan ini bertujuan menyelaraskan rancangan kurikulum yang telah disusun oleh UNHAS dengan kebutuhan kompetensi nyata di bidang pengawasan obat dan makanan, sehingga proses pembelajaran dapat menghasilkan lulusan yang siap berkontribusi dalam menjaga keamanan produk yang beredar di masyarakat.

Workshop menghadirkan para Pejabat Fungsional PFM Ahli Utama dan Ahli Madya BPOM sebagai narasumber sekaligus calon dosen praktisi pada program studi tersebut. Melalui pengalaman yang dimiliki dalam melaksanakan pengawasan obat dan makanan di lapangan, para praktisi memberikan berbagai masukan terkait profil lulusan, capaian pembelajaran, struktur kurikulum, materi pembelajaran, hingga mata kuliah yang dinilai relevan dengan kebutuhan kompetensi pengawas di masa depan. Keterlibatan praktisi sejak tahap penyusunan kurikulum diharapkan mampu memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan nyata di lapangan.

Sebagai bentuk penguatan pembelajaran berbasis praktik, BPOM juga menjalin sinergi dengan Balai Besar POM di Makassar. Ke depan, Balai Besar POM di Makassar diharapkan menjadi laboratorium pendidikan sekaligus tempat pelaksanaan praktik lapangan dan magang mahasiswa. Melalui pengalaman belajar secara langsung di lingkungan kerja, mahasiswa dapat memahami proses pengawasan secara komprehensif, mulai dari pengujian laboratorium, pemeriksaan sarana produksi dan distribusi, hingga berbagai aktivitas pengawasan lainnya.

Kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem pendidikan vokasi yang mengintegrasikan kekuatan akademik dengan pengalaman praktis. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan terapan, kemampuan analisis, serta profesionalisme yang dibutuhkan dalam mendukung sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia.

Melalui harmonisasi kurikulum ini, BPOM menegaskan komitmennya untuk menyiapkan SDM pengawasan yang unggul sebagai investasi jangka panjang dalam memperkuat perlindungan masyarakat. Semakin baik kualitas SDM yang mengawal pengawasan obat dan makanan, semakin kuat pula upaya menjamin agar produk yang beredar memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh perlindungan kesehatan yang semakin optimal, sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia.

Sarana