Medan, 29 Oktober 2026 – Dalam rangka mempersiapkan pengembangan pendidikan tinggi vokasi melalui rencana pembentukan Politeknik Pengawasan Obat dan Makanan (Poltek POM), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengawasan Obat dan Makanan (PPSDM POM) melaksanakan studi banding dan benchmarking ke Politeknik Teknologi Kimia Industri (PTKI) Medan. Kegiatan ini bertujuan menggali pengalaman dan praktik baik dalam pengelolaan kelembagaan pendidikan tinggi vokasi, penyelenggaraan pembelajaran, pengembangan kurikulum, serta pengelolaan pembiayaan pendidikan.
Dalam kegiatan tersebut, tim PTKI Medan berbagi pengalaman mengenai penerapan sistem pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan industri. PTKI menerapkan dual system dengan pendekatan Outcome-Based Education (OBE) serta model pembelajaran 3:2:1 yang mengombinasikan pembelajaran teori, praktik, dan pembelajaran di kampus. Dukungan fasilitas berupa dua unit pabrik pembelajaran (mini plant dan pabrik mini kelapa sawit), 21 laboratorium, serta kerja sama praktik kerja industri dengan 62 industri menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang kompeten dan siap memasuki dunia kerja.
Diskusi juga membahas aspek pendanaan pendidikan, skema beasiswa, penentuan program studi, serta mekanisme penyerapan lulusan. PTKI menekankan pentingnya pelibatan industri dalam penyusunan kurikulum melalui focus group discussion (FGD) untuk memastikan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Selain itu, sertifikasi kompetensi, tracer study, dan exit survey menjadi instrumen pendukung untuk mengukur kompetensi serta memantau penyerapan lulusan oleh dunia kerja. Pengalaman tersebut memberikan perspektif bagi BPOM dalam mengkaji model penyelenggaraan pendidikan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan pengawasan Obat dan Makanan.
Melalui kegiatan ini, PPSDM POM memperoleh masukan sebagai bahan pertimbangan dalam merancang penyelenggaraan Poltek POM, mulai dari tata kelola kelembagaan, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, penyediaan fasilitas praktik, hingga kemitraan dengan dunia industri. Hasil benchmarking diharapkan dapat mendukung perencanaan pendidikan vokasi yang adaptif, relevan, dan berkelanjutan dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten untuk memperkuat pengawasan Obat dan Makanan di Indonesia.