Benchmarking ke AKMET, PPSDM POM Perkuat Pengembangan SDM Pengawasan melalui PoltekPOM
Sumedang, 3 Juni 2026 – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengawasan Obat dan Makanan (PPSDM POM) melaksanakan kegiatan benchmarking ke Akademi Metrologi dan Instrumentasi (AKMET) di Sumedang sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) pengawasan obat dan makanan melalui rencana pengembangan Politeknik Pengawasan Obat dan Makanan (PoltekPOM).
Kegiatan ini dilakukan untuk mempelajari pengalaman AKMET dalam membangun dan mengembangkan institusi pendidikan tinggi. AKMET dinilai memiliki pengalaman yang relevan karena pada masa awal penyelenggaraannya bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelum berkembang menjadi institusi yang mandiri di bawah Kementerian Perdagangan.
Kepala PPSDM POM, Ali Muharam, menjelaskan bahwa BPOM saat ini tengah menjajaki berbagai alternatif pengembangan pendidikan tinggi di bidang Pengawasan Obat dan Makanan sebagai bagian dari strategi jangka panjang penguatan SDM pengawasan. Pembelajaran dari AKMET diharapkan dapat menjadi referensi dalam menyusun model pengembangan PoltekPOM yang efektif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Dalam diskusi bersama jajaran pimpinan dan akademisi AKMET, PPSDM POM mempelajari berbagai aspek strategis, mulai dari model kerja sama dengan perguruan tinggi, penyusunan kurikulum, penyiapan tenaga pengajar, sistem penjaminan mutu, hingga strategi pembiayaan dan keberlanjutan institusi pendidikan. BPOM juga menggali berbagai tantangan dan pembelajaran yang diperoleh AKMET selama proses pengembangannya.
Salah satu pembelajaran penting yang diperoleh adalah perlunya perencanaan yang matang sejak tahap awal, termasuk dalam penyusunan kurikulum, penetapan profil lulusan, pengembangan kerja sama akademik, serta pemilihan nomenklatur program studi yang adaptif terhadap perkembangan kebutuhan kompetensi di masa depan. Selain itu, pengalaman AKMET menunjukkan bahwa jejaring akademik dan kolaborasi kelembagaan menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan pengembangan institusi pendidikan tinggi.
Pengembangan PoltekPOM diharapkan tidak hanya mendukung kebutuhan SDM BPOM, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia. Melalui pendidikan yang dirancang sesuai kebutuhan pengawasan, BPOM berupaya menyiapkan SDM yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan pengawasan yang semakin kompleks.
Pada akhirnya, penguatan SDM melalui pengembangan PoltekPOM diharapkan dapat mendukung pengawasan obat dan makanan yang lebih efektif sehingga masyarakat memperoleh perlindungan yang semakin optimal terhadap produk yang memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan manfaat.